Pembelajaran sore atau yang biasa disingkat Pemsor ini
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan sore hari. Di sekolah kita kegiatan
ini berlangsung setelah pulang sekolah dan hanya berseling 30 menit setelah bel
pulang.
Kegiatan
sore ini mungkin menimbulkan kejenuhan bagi siswa, bahkan guru sekali pun. Bagaimana
tidak, dari pukul 07.00 siswa sudah harus berada disekolah dan pulang pada
pukul 16.00 selama 9 jam berada di lingkungan sekolah siswa tentunya merindukan
suasana rumah mereka. Suasana dimana pada pukul 14.00 adalah waktu untuk tidur.
Mungkin sering pula kita jumpai siswa yang kerap mengantuk pada saat kegiatan pemsor
ini.
“Uh,
guru gak pernah ngerti bagaimana jadi siswa. Seenaknya jangan si tugas banyak-banyak.
Udah tau ada pemsor. Belum lagi ulangan harian, PR, dan sebagainya. Mereka
piker kita robot yang dapat menyelesaikan itu semua secepat yang mereka inginkan…”
itulah kalimat yang sering kita dengar belakangan ini di kalangansiswa.
Hal
ini disebabkan oleh kurang mengertinya siswa mengenai pemsor ini. Jika kita bisa
memaknai pemsor secara positif, hal-hal seperti itu tidak akan terjadi. Coba bandingkan,
bagaimana kelelahan guru ketika mengajarkan siswanya, harus setiap hari berdiri
dan berbicara mengajar sekian banyaknya siswa. Yang mana yang lebih melelahkan?
Mengajarkan atau diajarkan? Pemsor mungkin menimbulkan kejenuhan, kebosanan,
dan menyita waktu tidur tetapi dibalik itu semua, kita tidak menyadari bahwa dengan
adanya pemsor itu berarti kita mengikuti les tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.
Hingga disini kita memperoleh 2 keuntungan yaitu ilmu tanpa uang dan ilmu demi
masa depan. Karena sering kita jumpai banyak anak yang ingin mengkuti les tapi bermasalah
di biaya. Dari padahal positif siswa tersebut tidak tercapai, maka sekolah membuat
kegiatan ini dengan tujuan agar siswa lebih mengerti dengan materi yang sempat diajarkan
pada saat jam pelajaran. Sehingga, siswa mempunyai banyak waktu untuk bertanya mengenai
pelajaran yang kurang mereka mengerti.
Faktanya, pemsor yang kini dijalankan bukan sebagai ajang
pengulangan materi agar siswanya lebih mengerti. Namun, lebih condong difungsikan
sebagai ajang system kejar materi agar materi standar nasional dapat tercapai. Dengan
demikian pendidikan seluruh anak bangsa menjadi setara. Tak semua siswa memiliki
kemampuan menyerap materi secara cepat, jadi antara pihak siswa dan guru
sebaiknya menjalin komunikasi mengenai materi yang akan dipelajari atau yang
telah dipelajari. Bila siswa memang sudah sepakat mengatakan paham tentang materi
apa yang telah dijelaskan, maka guru tersebut berhak melanjutkan materi selanjutnya
pada program pemsor. Namun bila siswa mengatakan tidak, maka seharusnyalah guru
tersebut mengulang materi tersebut dengan memanfaatkan program pemsor hingga mereka
benar-benar mengerti.
Masalah
kedua yang menjadi masalah sekolah adalah banyaknya liburan, apalagi kita bersekolah
di Bali, Provinsi yang kerap disebut sebagai provinsi yang banyak libur. Seperti:
liburan galungan & kuningan, liburan nasional, ditambah banyaknya pemantapan
yang harus dilewati oleh siswa kelas XII. Minimnya waktu belajar bagi siswa kelas
X dan XI ini membuat para guru takut akan materi yang harus diselesaikan dalam kurun
waktu 6 bulan tidak terselesaikan. Hal ini tentu merugikan siswa. Oleh karena itu,
untuk meminimalkan kejadian seperti itu diharapkan dengan adanya pemsor dapat membantu
kegiatan belajar siswa.
Masalah
ketiga adalah malasnya siswa berada di lingkungan sekolah dari pagi hingga
sore. Pukul 07.00 adalah waktu yang terlalu pagi bagi kalangan siswa untuk berada
di lingkungan sekolah. Namun, jika kita ambil segi positifnya, bangun dan
berangkat ke sekolah lebih pagi dapat melatih kedisiplinan kita dalam mengatur waktu
bangun tidur, dapat menurunkan tingkat kemacetan di jalan raya.Siswa pun dapat berangkat
sekolah tanpa rasa cemas mengahadapi macet yang membuat mereka terlambat. Selain
itu, jalan yang mereka lewati akan terasa lebih lenggang. Untuk kedepannya ketika
kita bekerja, kita sudah terbiasa dengan bangun pagi. Karena belum tentu kita bekerja
pada siang atau sore hari. Dokter misalnya. Seorang dokter harus bersedia kapan
saja mereka dibutuhkan bahkan harus merelakan waktu istirahatnya demi nyawa pasien.
“…Kenapa
siswa malas-malasan mengikuti pemsor, tetapi ketika mengikuti les diluar sekolah
seperti datang ke rumah guru mereka justru semangat? Apa yang membedakan?...”
begitulah kata bapak I KetutTunik pada saat salah satu dari kami diajar di kelas
olehnya.
Jikadipikir, apa yang beliau katakana ada benarnya.
Apa bedanya belajar disekolah dengan dirumah guru? Apa karena situasi? Mungkin situasi
disekolah adalah situasi formal, dan di tempat les tersebut situasi non formal.
Tetapi apa bedanya jika guru yang mengajar pemsor juga adalah guru yang
mengajar mereka di tempat les tersebut? Jika hanya mempermasalahkan situasi,
mungkin tidak masuk akal atau mungkin siswa datang ke rumah guru tersebut karena
suatu alasan. Karena selama ini tidak sedikit dari guru yang mengajar pemsor membebaskan
siswanya. Membebaskan dalam artian memberikan kesempatan siswa untuk minum jika
haus, makan makanan ringan (snack) jika berminat. Selain itu, bila cara penyampaian
materi disampaikan dengan suasana yang lebih santai, siswa tidak akan jenuh belajar.
Dari sini siswa akan merasa lebih relax dan beban yang sempat menginap dihati siswa
pun berkurang. Selain itu pihak guru pastinya lebih senang mengajar anak didiknya
dengan wajah ceria dibandingkan lebih menonjolkan kelelahannya sehingga materi
yang diterima tidak percuma diajarkan.
Menurut Mrs Wiwin & Mario Teguh (manfaat di
masamudasibukdanmengikutipemsor). Mulailah berpikir
jernih dan merenung. Kita sudah dibebasi biaya untuk masalah pemsor, kita sudah
diajarkan disiplin sebelum didisiplinkan, dan kita sudah dibina sebelum dibinasakan.
Jika situasi yang membuat bosan, cobalah mewarnai situasi dengan situasi yang
didambakan. Cobalah menikmati pemsor seperti menikmati les di tempat lain.
Cobalah merubah pola piker dan pikirkan apa yang kita peroleh kelak nanti.
Cobalah membiasakan diri untuk disiplin. Seperti apa yang orang katakan “Alah bisa
karena terbiasa” kita tidak akan bisa jika tidak terbiasa dan kita tidak akan terbiasa
jika kita tidak bisa. Cobalah membisakan diri untuk terbiasa. Sudah saatnya kita
merubah pola piker kita yang kikir. Ucapkan selamat tinggal pada kemalasan,
ucapkan selamat datang pada perubahan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar